Skip to content

Watak Serakah Lahir akibat adanya Sertifikasi Guru?

11 Januari 2013

serakahBenarkah ini akan terjadi pada kalangan pendidik? Dan apakah itu benar terjadi dalam lingkungan pendidikan? Apakah tidak ada lagi toleransi terhadap sesame umat manusia? Apakah diharuskan menerima pembayaran sertifikasi daripada bohongi profesi?

Nah, problema yang penuh tanda Tanya bagi masyarakat Indonesia, yang hanya mengejar kekayaan pribadi tanpa memikirkan orang lain yang akan teraniaya akibat ulah keserakahan itu. Disini bukan hanya menyalahkan penerima maupun penikmat sertifikasi guru, tapi ini bertujuan untuk mengajak kita berpikir dan merenungkan bahwa tanpa kesadaran yang tinggi ternyata memang terjadi dikalangan pendidikan di zaman sekarang ini.

Kadangkala kita bersikap tak manusiawi bahkan berlaku keji saat keuntungan berada di depan mata kita karena sertifikasi mengharuskan setiap guru yang lolos sertifikasi harus mengajar minimal 24 jam. Ada seorang guru SMP/SMA yang tanpa sadar mereka telah menganiaya teman seatap kerja bahkan tanpa sadar pula telah menyakiti perasaan teman se-profesi malahan, yang ketika itu mereka memohon agar menyerahkan jam mengajar seorang guru yang tidak lolos sertifikasi kepada dirinya. Sungguh bejat sekali, tanpa sadar mereka secara tidak langsung telah memberhentikan Guru Honorer dan atau guru yang tidak lolos sertifikasi.

Kenapa tidak memilih sekolah lain atau mendirikan sekolah sendiri hanya untuk meraih keuntungan pribadi? Pertanyaan kembali terlontar, betapa pedihnya kehidupan yang selalu tertindas oleh orang-orang yang tak punya pemikiran sehat (kurang olahraga kali yee hehehe).

Jam mengajar di Sekolah SD tidaklah menjadi masalah besar, karena untuk memperoleh 24 jam lebih mudah. Tetapi di SMP / SMA untuk memperoleh 24 jam agak sulit. hal tersebut menyebabkan beberapa guru yang lolos sertifikasi harus mendesak waktu mengajar orang lain, dalam hal tersebut adalah kebijakan dari sekolah, yaitu; kepala sekolah dan waka kurikulum, kadang kebijakan yang tidak bijak. demi memperoleh 24 jam yang kebanyakan adalah pegawai negeri mengambil jam guru lain, dan ironisnya adalah para guru tidak tetap (GTT) yang hanya mengandalkan jumlah jam untuk mendapatkan gaji lebih.

Memang terasa menyakitkan saat gaji sudah nombok, masih di diskriminasikan dengan dipotongnya jam mengajar, yang memotong adalah orang-orang yang sudah mempunyai gaji tetap tiap bulannya bukan termasuk gaji dari sertifikasi sepersepuluh lebih dari gaji para GTT. Ironis juga mereka tega mengambil penghasilan orang lain hanya untuk mendapatkan uang lebih banyak. Apakah itu bisa disebut punya hati jika sudah demikian, tapi siapa yang patut disalahkan jika sudah demikian. Atau hal tersebut merupakan awal pengurangan tenaga pendidikan secara permanen ?. Berfikirlah secara bijaksana dengan memperhatikan rakyat kecil, jeritan akar rumput.  [dibumbui oleh Hendry, S.E /dari kutipan mrheal/Rmn / wahyu nr/Kmps ]

Suka atau tidak suka artikel ini mohon berikan komentar.

3 Komentar leave one →
  1. 12 Juli 2013 18:26

    Apa yg anda tuliskan itu benar adanya, dengan danya sertifikasi memang ada plus minusnya…. , termasuk guru sekolah swasta yg Honorer…. mengapa demikian ??? karena guru yg PNS dan mendapat tunjangan TPP salah satu syaratnya harus mengajar 24 jam permingu…. kalau tidak atau kurang ??? boleh mencari di sekolah swasta…. sangat kejam…. krmudian sekarag ada aturan baru lagi aturan atau perintah ) 24 jam tersebut harus linear… , padahal sudah menjadi gejala umum skarang guru-2 PNS di sekolah negeri itu berlebih ??? bagaimana caranya ????? serta tiap enam bgulan guru di rolling..secara psikologis sangat berpengaruh pada guru-2 tersebut!!! disamping itu kalau masa liburan , guru tidak boleh libur !!!!! alasannya PNS masuk keja 5 hari kerja !!! apakah beliahu-2 yg diatas itu tidak rela kalau guru mendapat TPP, ini terjadi di Surabaya.. nggak tahu di kota lain !!!!

  2. bambang permalink
    18 Oktober 2014 01:48

    Saya seorang guru yang baru saja lulus PLPG. Saya merasakan sekali perbedaan nuansa sebelum dan sesudah sertifikasi. Sebelum saya sertifikasi memang saya tidak tahu dan tidak mau tahu urusan guru2 yang sudah sertifikasi itu seperti apa. Namun setelah sekitar 1 bulan lulus plpg barulah saya mengetahui bahwa guru2 yg sudah sertifikasi ternyata rakus2 bahkan rela menggonta-ganti SK mengajar (atas persetujuan kepsek) agar mereka semua bisa cair TPPnya.

    Sayapun termask yang manjadi korban keserakahan salah satu diantara teman guru, dimana dia berasal dari bidang MIPA tetapi tiba2 dia meminta tunjangan 12 jam saya sebagai Ketua Program Teknologi disebuah SMK untuk pengajuan TPPnya. Bisa anda bayangkan dari bidang MIPA yg guru mapel tiba2 banting setir mengambil tunjangan jabatan Ketua Program Teknologi pada SMK sebanyak 12 jam. Saya saat itu merasa sangat miris sekali dalam hati, namun kepala sekolah bilang demi penyelamatan TPP. Akhirnya sayapun pasrah….

  3. 2 Agustus 2015 18:29

    Iya… bersabar aja.. mudah2an ada jalan yg baik agar celah2 watak serakah itu di hapus ∂άn diberantas habis ke akar2 nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: