Skip to content

Meminta Maaf Jika Bersalah

15 November 2009

Manusia adalah tempatnya berbuat kesalahan. Mistake is
my (our) middle name.
Kesalahan bisa dalam bentuk apa saja.
Melanggar hukum Allah swt merupakan suatu kesalahan. Ketika sadar,
kita bisa langsung bertobat mohon ampunan pada-NYA.
Yang jadi masalah adalah ketika kita berbuat salah kepada sesama
makhluk Allah… katakan lah sesama manusia. Baik manusia yang tidak
kenal secara langsung atau pun yang ‘dekat di hati’, misalkan keluarga
sendiri. Guna mempertahankan ego, seringnya kita ‘berat’ meminta
maaf. “Hard to Say I’m Sorry”. Sering lupa apa salah diri…”emang
apa salah gue?”… Padahal orang lain sudah tersakitkan hati…
Na’udzubillah.

Sumber: dari salah satu koleksi buku anak sendiri: 40 Kisah
Pengantar Anak Tidur, karangan: Nazwa Husein Abdul Aziz. Penerbit:
Gema Insani
(sangat cocok dibacakan untuk para orangtua untuk putra-putrinya
tercinta)

Here it goes…

Pada suatu hari, ketika Nabi Sulaiman a.s tengah berbaring, ada
seekor semut berjalan di dadanya. Kemudian ia ambil semut itu dan
dilempar jauh.
Dengan marah, semut itu berkata, “Wahai Nabi Allah, mengapa kamu
lemparkan aku dengan begitu keras? Apakah kamu lupa bahwa pada hari
kiamat nanti kamu akan berdiri di hadapan Pencipta segala kerajaan,
yaitu Tuhannya langit dan bumi, yang Mahaadil, yang mengambil hak
orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya?”
Mendengar kata-kata semut itu, Nabi Sulaiman a.s. pingsan. Setelah
siuman, ia pandang si semut dan berkata kepadanya, ” Maafkanlah
sikap zalimku terhadapmu tadi.”
Si semut menjawab, “Aku akan memaafkanmu tadi dengan tiga syarat.”
Mendengar perkataan si semut, Nabi Sulaiman a.s.
bertanya, “Sebutkanlah ketiga persyaratanmu tersebut!”
Si semut berkata, syarat yang pertama adalah, jangan kamu tolak
orang yang meminta kepadamu. Sesungguhnya orang yang meminta
kepadamu adalah sedang meminta karunia Allah, maka jangan sampai
kamu cegah karunia Allah kepada mahkluk-Nya.
Sedang syarat yang kedua adalah, jangan tertawa berlebih-lebihan
sehingga kamu terlena dengan dunia dan menyangka bahwa kamu telah
menjalani semua tugasmu dengan baik di dunia ini, sehingga hatimu
menjadi keras, sedangkan kamu telah dimuliakan oleh Allah dengan
diberikan kerajaan yang besar ini.
Sedangkan syarat yang ketiga adalah, jangan sampai kedudukanmu ini
menghalangimu untuk menolong orang yang meminta pertolonganmu.
Medengar persyaratan semut itu, NAbi Sulaiman a.s
berkata, “InsyaAllah, semua perkataanmu itu akan aku jalani.” Maka
si semut berkata,”jika begitu, aku telah memaafkanmu.”

Morale of the story:
minta maaflah kepada orang yang telah kita perlakukan dengan buruk.
Kita harus bersikap lembut terhadap orang yang lemah. Karena Nabi
Sulaiman a.s saja, yang memiliki kerajaan yang luas, yang para
prajuritnya terdiri dari jin, manusia dan burung, yang juga
mengetahui bahasa burung, tidak memaksa semut yang memiliki tubuh
yang kecil untuk memaafkannya. Bahkan beliau meminta maaf dan
nasihat kepadanya dengan lembut, meskipun beliau adalah seorang Nabi
dan Rasul.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: