Skip to content

Kebenaran adanya pihak ketiga dalam cinta harus diperhitungkan

24 Agustus 2009

Sebuah pengalaman menjadikan kita sebagai orang yang semakin bijak dalam pengambilan keputusan, baik itu keputusan dalam kehidupan dan memilih jalan kehidupan. Ketika kita berhadapan dengan sebuah masalah yang sangat rumit, maka kita sebagai manusia tentu harus berbijaksana dalam memperhitungkan permasalahan itu walaupun memang sangat rumit menurut hati kita sendiri. Tetapi apakah bisa kita melihat bagai mana seseorang yang tidak bisa berpikiran positif terhadap apa yang telah ditakdirkan kepadanya.

Kembali kepada pokok persoalan yaitu “pihak ketiga”, apakah kita tau apa itu pihak ketiga. Banyak sekali hal-hal yang bersangkutan dengan pihak ketiga, Pihak ketiga yang kita bicarakan disini yaitu pihak ketiga dalam sebuah kisah percintaan. Banyak sekali terjadi kaitannya pihak ketiga dalam kisah-kisah seperti ini. Sangat jadi rumit apabila pihak ketiga melanda sebuah hubungan cinta seseorang. Pihak ketiga selalu dianggap salah, selalu dituduh, selalu dianggap pecundang, dan lain-lainnya. Nah, itu adalah sebuah masalah. Tergantung bagaimana kita menghadapi masalah itu dan menyikapi sebuah masalah itu.

Baiklah kita bicara tentang hubungan yang dianggap dirusak oleh pihak ketiga, apakah benar pihak ketiga itu ada ? Itulah yang harus di perhitungkan keberadaan pihak ketiga, apakah kita berada dalam posisi itu bisa mengambil sikap. Kesalahpahaman sering terjadi dengan adanya anggapan tentang adanya pihak ketiga, jadi kita harus hati-hati dalam mengambil keputusan.

Ketika ada dua insan yang sedang jatuh cinta, saling sayang, saling memahami, saling percaya, saling merindukan, saling memiliki, saling perhatian, saling mengasihi, saling menikmati, dan lain-lainnya, maka adanya rasa tersebut tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan tersebut kecuali hanya hatinya dan sang pencipta.

Sesuai kisah seseorang, ada seorang wanita yang dulunya dia memiliki pasangan atau pacar, wanita itu dulunya juga sangat begitu dekat dengan pacarnya itu, sehingga pada ketika itu ia merasa sangat sulit untuk dipisahkan, kemudian dengan tidak disangka-sangka munculah sebuah keputusan yang sangat pahit untuk dilakukan oleh kedua pasangan berpacaran ini, yaitu sebuah keputusan mengakhiri sebuah hubungan berpacaran dan tidak lagi menganggap itu sebagai harapan yang harus dipenuhi dikemudian hari untuk masa depan, dalam artiannya “putus cinta”.

Setelah wanita ini tidak lagi menjalani hubungan dengan status pacaran dan ikhlas dengan status “jomblo” yang dia jalani itu, kemudian tidak lama kemudian dengan tidak disangka-sangka datang sebuah rasa, yang rasa itu sangat mengubah perilakunya yang ikhlas dengan status sendiri menjadi rasa bergejolak ingin merasakan diperhatikan dan memperhatikan seorang laki-laki. Kemudian hadirlah dalam hatinya seorang laki-laki yang ia dambakan dalam kehidupan untuk masa depannya. Begitu juga lelaki yang hadir dalam hati nya itu bisa menjadi hadir dalam dirinya, sehingga adanya rasa “saling” yang telah di sebutkan dalam sebuah tulisan diatas tadi. Memang sangat berkesan sekali pertemuan yang tidak disangka-sangka ketika dia tidak ada status berhubungan dengan seorang laki-laki.

Dapat kita gambarkan dari kisah tersebut, dalam hal diatas seorang wanita memang berstatus sebelum bertemu dengan seorang laki-laki yang baru ini adalah “jomblo” setelah putus dari pacarnya.

Namun setelah waktu berlalu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan telah terlewati dengan kisah saling mencintai dengan lelaki yang sangat ia dambakan ini. Kemudian tak terkira datang lagi permasalahan baru yang dulunya di anggap masalah lama, mantan dari seorang wanita mengharapkan lagi ingin bersama tuk menjalin hubungan. Sementara hubungan wanita ini dengan laki-laki yang baru ini sudah sangat dalam sekali, mereka telah mengikrarkan janji bersama tuk melanjutkan kejenjang pernikahan. Dan itu pun lamaran yang sangat serius dari lelaki ini. Kembali kepokok persoalan, pada posisi seperti ini siapa yang dianggap sebagai seorang pihak ketiga? Wah pasti anda akan kembali mengulangi membaca ini supaya tau jawabannya.

Menurut konsep saya, yang namanya “pihak ketiga” dalam hal ini tidak ada, kenapa ? Karena seorang wanita dan laki-laki ini bertemu dan menjalin hubungan dan kemudian lelaki ini melamar wanita ketika mereka sama-sama tidak terikat status berhubungan cinta dengan yang lain.

Tetapi dalam kisah diatas, menurut anggapan yang dituduhkan kepada laki-laki yang baru datang pada diri wanita ini adalah sebagai pihak ketiga. Dan dia yang sebagai mantan dari seorang wanita ini sangat tertekan sekali dengan kedatangan lelaki dalam kehidupan mantannya. Jadi, Apa sebenarnya status mereka terdahulu ? udah putuskah ? atau masih menunggu jawaban ? atau dalam sebuah penantian ?

Huhh…. rumit. Semua ini kembali ke konsep hati masing-masing yang menilai. Toh ini juga tak jadi masalah. Kisah ini adalah sebuah pengingat supaya kita harus berbijaksana dalam melakukan perhitungan. Untuk lebih jelasnya anda jalanilah segala sesuatu itu dengan bersabar dan tidak tergesa-gesa. Marilah kita berdoa supaya jalan dan proses menjalani kehidupan dan mengahadapi masalah selalu dilimpahkan rahmat dan hikmah yang sangat berarti dalam kehidupan ini, amin. Bersambung…. ?

Ditulis oleh “Hendry”

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: