Skip to content

Balimau Sebuah Tradisi Minangkabau

20 Agustus 2009

Ditinjau dari sudut agama, balimau hukumnya sunat. Artinya bila dikerjakan berpahala kalau ditinggalkan tidak berdosa dan juga tidak membatalkan puasa bila tidak dilakukan.

“Hanya saja lantaran sudah merupakan kebiasaan bagi orangtua kita dari zaman dulu, akhirnya menjadi tradisi. Tapi bagi orangtua kita, balimau tidak perlu pergi jauh-jauh seperti anak muda sekarang, cukup di tepian mandi atau di bak masjid, surau dan di bak musala, karena yang penting niat dan pelaksanaannya” kata seorang ulama Kabupaten Sijunjung, Suar Jusad Rajo Intan, Selasa (11/8).

Kendati tradisi dan sunat hukumnya dalam Islam, ulas Suar Jusad, tapi bagi kaum muslimin dan muslimat yang senantiasa mencari keredhaan Allah SWT, balimau dan membersihkan diri untuk memasuki Ramadhan, sudah merupakan tuntutan hati nurani yang dilandasi iman dan aqidah.

Disamping dilandasi niat untuk membersihkan diri, balimau yang dilakukan kaum muslimin dan muslimat sebelum memasuki Ramadhan, juga mengandung harapan supaya  amal ibadah yang dikerjakan dalam Bulan Ramadan yang suci dan mulia, diterima oleh Allah SWT.

Tapi balimau tradisi remaja yang disinyalir sebagai hura-hura dan  memadu kasih, Suar Jusad juga tidak membantah. Sebab balimau yang intinya membersihkan diri lahir dan batin, tidak perlu di danau dan di laut atau di pemandian objek wisata, cukup di rumah saja, asal airnya suci lagi mensucikan.

Jika balimau  betul-betul didasari niat untuk membersihkan diri sebelum memasuki Bulan Suci Ramadhan, imbalannya tentu pahala.  Tapi bila  balimau dijadikan tameng untuk memadu kasih dan perbuatan yang bertentangan dengan agama, itu bukan membersihkan diri namanya, melainkan mengotori, tegas Suar Jusad.

Apa lagi mandi di tempat yang ramai dengan pakaian minim dan ketat, perbuatan itu tidak saja bertentangan dengan agama, tapi juga haram hukumnya. Kendati tidak berpakaian minim, namun pakaian basah yang dikenakan sama saja dengan mempertontonkan aurat, karena lekuk-lekuk tubuh seorang wanita terlihat dengan jelas.

Justru itu, kepada para remaja Suar Jusad berpesan, jika benar-benar ingin membersihkan diri untuk memasuki Bulan Suci Ramadhan, tidak perlu balimau di danau dan di laut atau di pemandian objek wisata, tapi cukup di rumah atau di tepian mandi serta di bak masjid, surau dan di bak mushala.

Jika balimau di pemandian objek wisata yang ramai pengunjung, dengan pakaian minim dan ketat, itu bukan membersihkan diri namanya, tapi mengotori, karena di balik pakaian basah yang melekat tersimpan setumpuk dosa, jelas Suar Jusad Rajo Intan.

Sumber : sijunjung.go.id

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: