Skip to content

PULAU KALIMANTAN

21 Januari 2009
  1. Sejarah Wilayah Pulau Kalimantan

Kalimantan adalah nama bagian wilayah Indonesia di Pulau Borneo Besar; yaitu pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Seluruh Pulau Irian. Kalimantan meliputi 73 % massa daratan Borneo.

Di zaman Hindia-Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo. Ini tidak berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin ia menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal dari pada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Nama Kalimantan kembali mulai populer pada sekitar tahun 1940-an.

Pada abad ke-18, sebagian besar wilayah Kalimantan yaitu dari negeri Sambas sampai negeri Berau merupakan kerajaan bawahan dari Kesultanan Banjar, tetapi pada akhirnya menyusut menjadi sebagian kecil saja dari wilayah Kalimantan Selatan saat ini karena perjanjian dengan pihak Belanda. Dalam Perjanjian Karang Intan di masa pemerintahan Pangeran Nata Dilaga (Susuhunan Nata Alam) (1808-1825), Kesultanan Banjar menyerahkan beberapa wilayah taklukannya kepada Hindia Belanda diantaranya wilayah Bulungan, Kutai, Pasir, Pagatan dan Kotawaringin. Daerah lainnya yang juga telah diserahkan kepada Belanda adalah Landak, Sambas, Sintang dan Sukadana. Hanya wilayah inti Kesultanan Banjar saja yang belum jatuh dalam gengaman Belanda sampai tahun 1860. Selanjutnya pada abad ke-19, Belanda mengakui berdirinya kerajaan-kerajaan (daerah distrik) yang langsung diperintah kepala bumiputera yang tunduk di bawah kekuasaan Belanda (Indirect Bestuur).

Pada abad XIV wilayah Kalimantan ditaklukan Gajah Mada. Setiap negeri yang merupakan sebuah daerah aliran sungai pada masa itu dipimpin seorang yang bergelar Sakai. Majapahit menempatkan wakilnya Maharaja Suryanata (1365) yang menjadi raja Negara Dipa berkedudukan di Candi Agung (Amuntai). Kerajaan melayu Hindu, pada masa itu yang terbesar adalah Tanjungpura (Kalimantan Barat), Tanjungnegara (Negara Dipa, Kalimantan Selatan) dan Tanjung Kute (Kalimantan Timur). Ketiga kerajaan tersebut masih meninggalkan jejak-jejak sejarah seperti candi dan yupa. Pada masa perkembangan agama Islam beberapa Kerajaan Hindu berubah menjadi Kerajaan Islam yang berciri budaya Muslim Melayu. Sebelum munculnya agama Islam semua penduduk Kalimantan dikategorikan berbudaya Dayak yang terdiri dari orang Dayak, Melayu Hindu dan Jawa Hindu. Kesultanan Banjar selaku wakil Kesultanan Demak di Kalimantan mewarisi beberapa wilayah bekas taklukan Majapahit.

Kesultanan Banjar membagi wilayah Kalimantan menjadi wilayah-wilayah Kota Raja, Negara Agung, Manca Negara dan Pasisiran. Kota Martapura ibukota Kesultanan Banjar sebagai ring pertama merupakan wilayah Kota Raja. Ring kedua daerah luar kota Martapura (Daerah Banjar) adalah wilayah Negara Agung (daerah inti kerajaan Banjar). Ring ketiga di luar daerah Banjar disebut daerah Manca Negara yaitu kawasan barat sampai daerah Kotawaringin dan di timur sampai daerah Pasir. Ring terluar yaitu wilayah di sebelah barat Kotawaringin sampai ke negeri Sambas disebut Pasisir Barat, sedangkan Pasisir Timur adalah kawasan di sebelah utara daerah Pasir sampai wilayah Berau-Bulungan.

2. Asal-muasal nama

Pertama Borneo dari kata Kesultanan Brunei Darussalam yang sebelumnya merupakan kerajaan besar dan luas (mencakup Serawak dan sebagian Sabah karena sebagian Sabah ini milik kesultanan Sulu-Mindanao. Para pedagang Portugis menyebutnya Borneo dan digunakan oleh orang-orang Eropa. Namun penduduk asli menyebutnya sebagai pulo Klemantan.

* Kedua menurut Crowfurd dalam Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856), kata Kalimantan adalah nama sejenis mangga sehingga pulau Kalimantan adalah pulau mangga namun dia menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer.

* Ketiga menurut Dr. B. Ch. Chhabra dalam jurnal M.B.R.A.S vol XV part 3 hlm 79 menyebutkan kebiasaan bangsa India kuno menyebutkan nama tempat sesuai hasil bumi seperti jewawut dalam bahasa sanksekerta yawa sehingga pulau itu disebut yawadwipa yang dikenal sebagai pulau Jawa sehingga berdasarkan analogi itu pulau itu yang dengan nama Sansekerta Amra-dwipa atau pulau mangga.

* Keempat menurut dari C.Hose dan Mac Dougall menyebutkan bahwa kata Kalimantan berasal dari 6 golongan suku-suku setempat yakni Dayak Laut (Iban), Kayan, Kenya, Klemantan, Munut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), C Hose menjelaskan bahwa Klemantan adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu.

* Kelima menurut W.H Treacher dalam British Borneo dalam jurnal M.B.R.A.S (1889), mangga liar tidak dikenal di Kalimantan utara. Lagi pula Borneo tidak pernah dikenal sebagai pulau yang menghasilkan mangga malah mungkin sekali dari sebutan Sago Island (pulau Sagu) karena kata Lamantah adalah nama asli sagu mentah.

* Keenam menurut Prof. Dr. Slamet Muljana dalam bukunya Sriwijaya (LKIS 2006), kata Kalimantan bukan kata melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata malaya, melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti gunung). Kalimantan atau Klemantan berasal dari Sanksekerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan.

  1. Letak Luas dan Batas-Batas Pulau Kalimantan

Kalimantan memiliki pulau yang datar, dikarenakan mempunyai pesisir yang rendah dan memanjang serta dataran sungai, terutama disebelah selatan dan barat. Lebih dari setengah pulau ini berada di ketinggian di bawah 150 m dpl dan air pasang dapat mencapai 100 km ke arah pedalaman. Borneo tidak memiliki pegunungan berapi namun jajaran pegunungan utamanya semula merupakan gunung berapi. Rangkaian pegunungan utamanya melintasi bagian tengah pulau seperti trisula terbalik dari utara ke selatan dengan tiga mata tombak bercabang di bagian selatan. Gunung Kinibalu di Borneo yang tingginya 4.101 m dpl, merupakan puncak tertinggi di Asia tenggara dan merupakan gunung tertinggi diantara pegunungan Himalaya dan puncak Jayawijaya yang tertutup salju di Irian Jaya. Puncak gunung lain di Borneo yang mencapai 2.000m hanya beberapa saja. Gunung Kinibalu terdiri atas sumbat batu granit yang terangkat oleh tekanan vulkanik dan masih terus bertambah tinggi.

Pengunungan Iran (Iban) antara Kalimantan Timur dan Malaysia Timur menjulang sampai 2.160 m di G. Harun (Harden), dekat perbatasan dengan Sabah. Ujung bagian barat rangkaian pegunungan Iran tengah membentuk jajaran Kapuas Hulu di sepanjang perbatasan Serawak dengan Kalimantan Barat. Menjulang di G. Lawit (1.767 m) dan G. Cemaru (1.681 m). Dari pegunungan tengah sekitar G. Cemaru, Pegunungan Muller (puncak tertingginya G. Liangpran 2.240 m) dan Pegunungan Schwaner (Bukit Raya 2.278 m) melintang kebarat daya di sepanjang perbatasan Kalimantan Tengah dan Barat. Kearah tenggara melintang pengunungan Meratusyang rendah (puncak tertingginya G. Besar 1.892 m), memisahkan kalimantan Selatan dan timur dan memanjang ke arah selatan sepanjang pesisir. Seluruh rangkaian pegunungan ini merupakan pegunungan sekunder dengan ketinggian rata-rata 1.000 – 1.500 dan dengan puncak kadang-kadang hanya mencapai 2.000. Gunung Makita (2.987 m) yang berada dekat Longnawan dan G. Giho (2.550 m) di dekat Longsaan, keduanya berada di perbatasan dengan Serawak merupakan puncak tertinggi Borneo yang berada di kalimantan, diikuti dengan G. Mantam (2.467 m) di sebelah barat Tanjung Redep, Kalimantan Timur.

Borneo tertoreh oleh sungai-sungai besar yang mengalir dari bagian tengah pulau ke pesisir. Borneo memiliki tiga sungai terpanjang yang menjadi kebanggaan Indonesia. S. Kapuas (1.143 km), sungai Barito (900 km) dan sungai Mahakam (775 m). S. Kapuas mengalir dari kaki g. Cemaru ke barat, mengaliri sebagian besar Kalimantan Barat. Sungai Barito yang besar mata airnya berasal dari pegunungan Muller dan mengalir ke selatan dan bertemu dengan Sungai Negara yang berasal dari Pegunungan Meratus bermuara dekat Banjarmasin. Sungai Kahayan yang kecil tetapi memiliki sejarah yang penting juga mengaliri pesisir selatan. Sungai Kayan dan S. Mahakam mengalir dari pegunungan di pedalaman ke pesisir timur. Sejumlah sistem sungai yang berukuran besar mempunyai anak-anak sungai yang sangat luas di daerah alirannya di pedalaman dam pantai-pantainya di dataran rendah. S. Mahakam, S. Barito, S. Negara, S. Kapuas dan S. Baram (serawak) semuanya mempunyai danau tapal kuda dan anak sungai musiman pada dataran banjir. Di bagian selatan, anak sungai Bayan mengalir ke Seruyan.

Topografi Kalimantan
Topografi Kalimantan

Geografi

Lokasi

Asia Tenggara

Koordinat

1°00′ LU 114°00′ BT

Kepulauan

Kepulauan Sunda Besar

Wilayah

743,330 km²

Titik tertinggi

Kinabalu 4,095 m

Administrasi

Flag of Brunei Brunei

Distrik

Belait
Brunei dan Muara
Temburong
Tutong

Flag of Indonesia Indonesia

Provinsi

Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur

Flag of Malaysia Malaysia

Negara bagian

Sabah
Sarawak

Demografi

Populasi

16 juta (2000)

Kepadatan

22/km²/km²

Kalimantan terbagi menjadi 3 negara, yaitu Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia.. Borneo yang masuk dalam wilayah negara Indonesia, secara administratif terbagi menjadi 4 propinsi , yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan luas seluruhnya adalah 549.032 km2 atau 73 % dari luas Borneo (Kathy Mackinnon:1:2000). Luas diatas merupakan 28% seluruh daratan secara umum keempat propinsi tersebut adalah sbb, Indonesia. Borneo terbentang di katulistiwa antara 70 LU dan 40 LS. Borneo terletak di kawasan bercurah hujan konstan dan bersuhu tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu, pulau ini memiliki beberapa habitat tropis tersubur di muka bumi dan memiliki hutan basah tropis terluas di kawasan Indomalaya. Pulau ini kaya akan keragaman hayati.

Borneo terletak di katulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan suhu yang relatif konstan sepanjang tahun, yaitu antara 250 -35 0 C di dataran rendah. Tipe vegetasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan tahunan juga oleh distribusi curah hujan sepanjang tahun. Dataran rendah di sepanjang garis katulistiwa yang mendapat curah hujan minimum 60 mm setiap bulan dapat mendukung hutan yang selalu hijau (Holdridge 1967). Kalimantan dapat dibagi menjadi lima zona agroklimat. Sebagian besar daerah perbukitanyang tinggi menerima curah hujan 2.000 – 4.000 mm setiap tahun. Sebagian besar wilayah Kalimantan masuk ke dalam kawasan yang paling basah (Oldeman dkk. 1980). Tidak seperti Sumatera, di Kalimantan tidak ada gunung-gunung di daerah pesisir yang mempengaruhi curah hujan, walaupun beberapa gunung yang pendek mempengaruhi curah hujan lokal, terutama di Borneo bagian timur. Borneo tengah dan barat adalah kawasan yang paling basah, sementara bagian-bagian di pesisir timur jauh lebih kering1. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah merupakan kawasan yang paling basah. Angin musim Barat laut di Kalimantan Barat pada bulan Agustus-September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei. Curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Pada bulan Juni-Agustus iklim relatif lebih kering, akan tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan tahunan di Putussibau (Kapuas Hulu) mencapai lebih dari 4000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm. Dengan wilayah panas sepanjang tahun dan daerah lembab2

Angin musim barat laut mencapai Kalimantan Barat pada bulan Agustus-September dan musim hujan berlangsung sampai bulan Mei; curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan Nopember dan yang kedua pada bulan April. Dari bulan Juni sampai Agustus, iklim relatif lebih kering tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Curah hujan di Putusibau lebih dari 4.000 mm dan tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 200 mm. Di Kalimantan Tengah dan Selatan, curah hujan umumnya bertambah tinggi ke arah utara dari daerah pesisir. Pengaruh angin musim tenggara jauh lebih besar daripada di Kalimantan Barat. Bulan kering terjadi dari bulan Juli sampai September terutama di daerah-daerah bayang-bayang hujan di bagian barat Pegunungan Meratus, misalnya di Martapura. Namun musim kemarau disini masih tidak sekering di jawa dan Nusa Tenggara. Pesisir di bagian tenggara dan P. Laut umumnya lebih basah daripada pesisir bagian selatan. Karena pengaruh Pegunungan Meratus (Oldeman dkk 1980)1.

Daerah-daerah pesisir di Kalimantan Timur dan bagian timur jauh lebih kering daripada bagian-bagian lainnya di Borneo. Pengaruh angin musim barat laut jauh lebih lemah karena hampir semua hujan jatuh di pegunungan tengah. Bahkan selama musim penghujan, curah hujan relatif rendah dan seringkurang dari 200 mm/bulan, terutama di daerah Semenanjung Sankulirang. Tidak ada musim kemarau yang khusus karena angin musim tenggara melintasi laut terbuka sehingga juga membawa hujan ke daerah lain1.

Walaupun pola iklim Borneo secara umum bercirikan curah hujan yang tinggi, periode kemarau yang pendek sepanjang tahun berperan penting dalam kehidupan tumbuhan dan mempengaruhi pola pembungaan dan pembuahan pada tumbuhan. Hanya kadang-kadang saja musim kemarau berlangsung agak lama. Pada tahun 1982-1983 di Borneo terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, yang terjadi lagi pada tahun 1987, 1990 dan 1997. Musim kemarau yang panjang ini terjadi secara berkala dalam sejarah Borneo, dan mungkin berkaitan dengan osilasi El Nino di bagian selatan (Leighton dan Wirawan 1986).

Secara Geologi Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus., batuan vulkanik dan endapan tersier. Borneo tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapu memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantan yang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas.

Sebagian besar Kalimantan terdiri dari batuan yang keras dan agak keras, termasuk batuan kuarter di semenanjung Sangkulirang dan jajaran pegunungan meratus., batuan vulkanik dan endapan tersier. Borneo tidak memiliki gunung api yang aktif seperti yang terdapat di Sumatera dan Jawa, tetapu memiliki daerah batuan vulkanik tua yang kokoh di bagian barat daya dan bagian timur Kalimantan. Hal-hal tersebut merupakan peninggalan sejarah geologis Indonesia yang mencakup berbagai masa kegiatan vulkanik dari 300 juta tahun yang lalu sampai sekarang. Batuan vulkanik terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk sebagai hasil magma dari perut bumi yang mencapai permukaan. Ketika magma menjadi dingin dan membeku, dibawah permukaan bumi terbentuk batuan intrusi seperti granodiorit. Ditempat batuan vulkanik tua Kalimantan yang telah terkikis, intrusi yang mengandung cadangan emas, semula di bawah gunung api merupakan bagian penting dari proses utama pembentukan mineral seperti emas.

di bagian tengah, timur dan selatan Kalimantan tersusun dari batuan endapan seperti batu pasir dan batu sabak. Selain formasi yang lebih tua di kalimantan Barat, kebanyakan formasi sedimen relatif muda dan mencakup batu bara dan batuan yang mengandung minyak bumi. Bagian selatan Borneo terutama tersusun dari pasir keras yang renggang dan teras kerikil yang sering dilapisi oleh timbunan gambut muda yang dangkal dan kipas aluvial yang tertimbun karena luapan sungai

Setidaknya di kalimantan terdapat 205 formasi formasi batuan di Kalimantan, terdapat banyak patahan di Kalimantan Timur dan Barat, sedikit di Kalimantan Selatan dan sangat sedikit di Kalimantan Barat. Sebaran patahan yang paling sedikit berada di bagian selatan sampai barat dari pulau kalimantan.

Batas-batas pulau Kalimantan adalah sebagai berikut, Bagian utara, Sarawak dan Sabah, merupakan wilayah Malaysia yang berbatasan langsung dengan Kalimantan wilayah Indonesia dan wilayah Brunei Darussalam; di bagian selatan dibatasi oleh Laut Jawa. Bagian barat pulau Kalimantan dibatasi oleh Laut China Selatan dan Selat Karimata; di bagian timur dipisahkan dengan pulau Sulawesi oleh Selat Makassar. Di bagian tengah pulau merupakan wilayah bergunung-gunung dan berbukit; pegunungan di Kalimantan wilayah Indonesia tidak aktif dan tingginya dibawah 2.000 meter diatas permukaan laut; sedangkan wilayah pantai merupakan dataran rendah tertutup lapisan tanah gambut yang tebal.

  1. Potensi Fisik Pulau Kalimantan

Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39,69 %), daratan (35,08 %), dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11,73 %) dataran aluvial (12,47 %), dan lain–lain (0,93 %). Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kelerengan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang. Pegunungan utama sebagai kesatuan ekologis tersebut adalah Pegunungan Muller, Schawaner, Iban dan Kapuas Hulu serta dibagian selatan Pegunungan Meratus. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri, rotan, damar, dan tengkawang. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu, ramin, dan cendana sudah hampir punah. Analisis ekonomi hasil hutan dengan ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat, wilayah dan ekonomi nasional

a. SDA

v Tanah

Kondisi tanah merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi penyebaran vegetasi. Ada lima faktor utama dalam formasi tanah : litologi, iklim, topografi, mahluk hidup dalam waktu.

Sebagian besar tanah telah di Kalimantan berkembang pada dataran bergelombang dan pegunungan yang tertoreh diatas batuan sedimen dan batuan beku tua. Tanah-tanah ini berkisar dari ultisol masam yang sangat lauk dan inceptisol muda. Di bagian selatan dataran aluvial dan tanah gambut yang sangat luas, terus meluas sampai ke Laut Jawa. Perluasan ini masih terus terjadi di dangkalan Kalimantan bagian selatan, dengan endapan aluvial yang terbentuk di belakang hutan bakau pesisir.

Di daerah tropis yang lembab pelapukan berlangsung sangat cepat, disebabkan oleh panas dan kelembaban. Karena curah hujan yang tinggi, tanah selalu basah dan unsur-unsur pokoknya yang dapat larut hilang ; proses ini disebut pelindian. Tingkat pelapukan, pelindian dan kegiatan biologi (kerusakan bahan-bahan organik) yang tinggi merupakan ciri berbagai tanah di Borneo (Burnham, 1984). Batuan pulau ini miskin kandungan logam dan tanah Borneo umumnya kurang subur dibandingkan dengan tanah vulkanik yang subur di Jawa. Pelapukan sempurna yang dalam disertai dengan pelindian menghasilkan tanah yang kesuburannya rendah di berbagai dataran rendah. Lereng yang lebih curam mungkin lebih subur karena erosi dan tanah longsor terus membuk batuan induk yang baru.

Jenis Tanah Per – Propinsi

Kalimantan Selatan :

Secara umum sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan tersusun atas jenis tanah podsolik merah kuning, aluvial dan litosol. Adapun luas sebaran jenis tanah adalah sebagai berikut :

  • Organosol (litosol) Gleyhumus (519.881 Ha)
  • Aluvial (757.740 Ha)
  • Latosol (270.339 Ha)
  • Utosol (34.757 Ha)
  • Padsolik (138.311 Ha)
  • Padsolik Merah Kuning (671.917 Ha)
  • Asosiasi Latosal Utosal (12.500 Ha)
  • Asosiasi Padsolik Merah Kuning & Bahan Endapan (151.168 Ha)
  • Asosiasi Padsolik Merah Kuning dengan batuan beku (59.766 Ha)

Kalimantan Barat :

· OGH (2.030.580,0 Ha)

· Alluvial (1.596.114,0)

· Regosol (44.800,0 Ha)

· Podsolik MK¹› (10.515.703,0 Ha)

· Podsol (414.783,0 Ha)

· Latasol (159.414,0 Ha)

Kalimantan Timur :

Beberapa jenis tanah di Kalimantan Timur adalah pada umumnya terdiri dari Hapludults, Plinthudults, Dystropepts, Fluvaquents, Haplaquents

v Air

Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka, da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksport-import. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat. Sungai di kalimantan antara lain sungai mahakam, sungai barito, sungai kapuas, sungai kuin, sungai martapura, dan sungai malawi.sedangkan danaunya danau kakaban di Kalimantan timur.

v Perkebunan

Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit, kelapa, karet, tebu dan perkebunan tanaman pangan. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran, karena keterbatasan lahan di negara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai. Namun sekarang ini pengembangan perkebunan juga mengancam kawasan perbukitan dataran tinggi, namun di duga areal yang sebenarnya kurang cocok untuk perkebunan hanya sebagai dalih untuk melakukan eksploitasi kayu.

Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi, patahan/sesar dan gempa bumi, namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan, serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat, selatan dan timur. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini.

v Hutan

Jenis Hutan.

Jenis hutan yang ada di Kalimantan termasuk dalam hutan tropis pegunungan dan dataran rendah dengan ketingginan 0 – 2.500 dpl.

Hutan Kalteng :

Penutupan lahan pada sebagian besar kawasan di Provinsi Kalimantan tengah adalah hutan dimana secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 (empat) tipe hutan yang berbeda berdasarkan pada ketinggian tempatnya, yaitu:

Hutan Hujan tropika seluas + 10.350.363,87 ha atau sekitar 65,51%

Hutan Rawa Tropika seluas + 2.382.683,31 Ha atau sekitar 15,08%

Hutan Rawa Gambut Tropika seluas + 2.280.573,55 Ha atau sekitar 5,27%

(DISHUT Kalteng 2006)

Hutan Kalbar :

No.

Status Kawasan

2001

2002

2003

I

Kawasan Lindung/Protected Forest

1. Hutan Cagar Alam/Natural Conservation

2. Hutan Taman Nasional/National Park

3. Hutan Wisata Alam/

4. Hutan Lindung/ Protected Forest

5. Suaka Alam Laut/Marine Conservation

- Daratan

- Perairan

153. 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

153 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

153 275

1 252 895

29 310

2 307 045

22 215

187 885

II

Kawasan Budidaya/Cultivated Area

1. Hutan Produksi Terbatas

2. Hutan Produksi Biasa

3. Hutan Produksi Konversi

2 445 985

2 265 800

514 350

2 445 985

2 265 800

514 350

2 445 985

2 265 800

514 350

Jumlah / Total

9 178 760

9 178 760

9 178 760

Sumber/Source : Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat/Forestry Service of Kalimantan Barat

Hutan di Kaltim

Luas wilayah daratan: 19.550.208 ha.

Terdiri :

Hutan penelitian : 25.484 ha (0,13%).

Kawasan lindung : 4.579.186 ha (23,42%).

hutan lindung : 2.816.320 ha

cagar alam : 1.487.368 ha.

taman nasional : 204.399 ha.

taman hutan raya : 71.099 ha.

kawasan budidaya kehutanan : 9.774.753 ha (50%).

kawasan budidaya non kehutanan : 5.170.785 ha (26,45%).

sumber : presentasi usulan program prioritas tahun 2007 provinsi kalimantan timur pada musrenbangnas, april 2006

Kalimantan Kaya dengan hasil hutan baik itu kayu non kayu. Sumber hasil hutan kayu telah lama dimanfaatkan oleh Negara, kini potensi kayu sudah menipis jika kita lihat dengan banyak perusahaan kayu yang gulung tikar karena kekhurangan stok kayu. Hasil hutan non kayu sebenarnya tidak kalah potensinya, namun belum secara serius di garap. Selama ini hasil hutan bukan kayu (HHBK) banyak di manfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat yang berada di kawasan hutan.

Di Kalimantan Tengah potensi non kayu cukup dominan seperti beberapa jenis Rotan, Getah Jelutung, beberapa jenis Damar, Kemedangan, Biji Tengkawang, Kulit Kayu Gemor, Gaharu, Sirap dan Sarang Burung. Berdasarkan hasil inventarisasi Pilot Proyek KPHP di Kalimantan Tengah yang dilaksanakan United Kingdom – Indonesia Tropical Forest Management Programme (UK-ITFMP) tahun 1994 – 1997, selain jenis-jenis HHBK yang dominan tersebut, hutan di Kalimantan Tengah juga memiliki potensi yang cukup menjanjikan akan tanaman/tumbuhan obat-obatan, seperti Pasak Bumi, Saluang Belum, Akar Kuning, Akar Ginseng, Sintuk, Akar Busi, Tusuk Kusung, Penawar Bisa, Anak Busi, Sula Adam, Akar Sutra, Akar Gusi, Sendi Adam, Kei Umbut, Ipung, Ikang Siau serta Akar Buli.

Potensi HHBK tersebut pada umumnya tersebar tidak merata pada tipe Hutan Hujan Tropika (Tropical Rain Forest) baik dataran tinggi (Tropical Mountain Rain Forest) maupun dataran rendah (Tropical Lowland Rain Forest). Meskipun hingga saat ini belum dilaksanakan kegiatan inventarisasi potensi HHBK secara menyeluruh guna mengetahui luas dan sebaran HHBK, namun mengacu pada hasil survey yang dilaksanakan oleh ODA UK-ITFMP, diperkirakan mencakup luasan sedikitnya 10 % dari total luas Hutan Hujan Tropika di Kalimantan Tengah atau sekitar 1.350.363,87 Ha. (data kawasan hutan kalteng 2001).

Dilihat dari nilai ekonomi dan ekologi, potensi hasil hutan non kayu seperti rotan dan berbagai getah (pantung dan jerenang) lebih berpotensi. Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan potensi hasil hutan non kayu untuk jenis rotan mencapai 839.684.000 ton/tahunnya. Hasil hutan saat ini lebih banyak terdapat pada daerah hulu sungai.

v Flora

Vegetasi alami tidak terlepas dari perpaduan topografi, ketinggian dari permukaan laut, geologi, tanah, iklim dan pasokan air (curah hujan). Kalimantan terletak di garis equator, dengan panas sepanjang tahun dan daerah terlembab yang dapat mendorong timbulnya penggolongan dan keragaman jenis yang tinggi. Di Kalimantan memiliki lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis Dipterocarpaceae yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan terpenting di Asia Tenggara, sekitar 58% jenis Dipterocarpaceae ini merupakan jenis endemik. Juga memiliki lebih dari 2.000 jenis anggrek dan 1.000 jenis pakis, juga sebagai pusat distribusi karnivora Kantong semar (Nepenthus). Tingkat endemisme flora juga cukup tinggi sekitar 34% dari seluruh tumbuhan, tetapi hanya mempunyai 59 marga unik dari 1.500 marga.

Kalteng :

Untuk vegetasi di kalimantan Tengah berdasarkan lebih banyak di dominasi pada kawasan budidaya sekitar 12,950,104.61 Ha yang terdiri dari Hutan Produksi terbatas (HPT),Hutan Produksi Tetap, HTI, Hutan pendidikan dan kawasan handil rakyat Kalsel :

Wilayah propinsi Kalsel akan akan sumber plasma nutfah dan dianggap sebagai tempat asal dari berbagai tumbuhan seperti :

  • Durian ( Duriospesi )
  • Tebu ( Sacharum Officinarum )
  • Kasturi ( Mangifera Delmiana )
  • Rambutan ( Nephelium Lappocum )

Hutan Daratan rendah dan tinggi didominasi oleh spesies :

  • Meranti (Dipterocorpus Spesi )
  • Hopea ( Hopea spesia )
  • Ulin ( Eusideroxlyon )
  • Kempos ( Komposia Spesi )
  • Damar ( Agathis bornensis )
  • Sindor ( Sindora Spesi )

Didaerah hutan tanah bergambut pepohonan utamanya meliputi :

  • Ramin ( Gonostylus Bancadud )
  • Jeluntung ( Dura Spesi )
  • Ebony ( Displyros Spesi )

Didaerah hutan rawa dibagian barat Kalimantan Selatan banyak ditemui

  • Xylopia Spesi
  • Tarantang ( Comnaperma Spesi )

Nipah ( Nipahfruitcans )

v Fauna

Seperti halnya pada flora, fauna di Kalimantan menggambarkan kekayaan yang berasal dari Asia, misalnya keluarga Rusa, sapi liar, Babi, Kucing, Manyet dan Kera, Tupai, keluarga burung Asia. Kalimantan memiliki 222 jenis Mamalia, 13 jenis Primata, 10 jenis Celurut. Kalimantan juga memiliki beberapa jenis karnivora ukuran sedang dan kecil, dari Macan dahan (Neofelis nebulosa) dan Beruang madu (Helarctros malayanus) sampai banyak musang dan tikus, binatang pengerat yang kecil dan kelelawar yang banyak hidup di habitat pegunungan. Terdapat fauna burung yang khas berasal dari Asia dan mirip dengan yang terdapat di Semenanjung Malaya dan Sumatera, seperti ada 18 jenis Burung Enggang, 18 jenis Caladi/Pelatuk, 13 jenis Paok dan keluarga burung hutan lainnya. Selain itu juga di Kalimantan terdapat 420 jenis burung penetap, dimana banyak terdapat di wilayah pegunungan. Ada juga fauna yang Reptilia, seperti terdapat 166 jenis ular, 100 jenis amfibi, 394 jenis ikan air tawar yang memang lebih banyak di daerah Balitoridae (jenis dari hulu sungai) dan Bolintiidae. Ada juga jenis Invertebrata, seperti kupu-kupu sayap burung dan Kalimantan juga meiliki 40 jenis burung layang-layang.

Tabel 4. Kekayaan Jenis Fauna Di Kalimantan

Jenis

Jumlah

Tumbuhan

10.000 – 15.000

Mamalia

222

Burung Penetap

420

Ular

166

Amfibi

100

Ikan

394

Kupu-kupu

40

Fauna per-Propinsi

Kalteng :

Di kalimantan Tengah,ada beberapa jenis fauna yang dilindungi. Jenis fauna masih banyak terdapat pada daerah yang mempunyai hutan primer yang sangat jauh dari aktivitas manusia. Beberapa jenis satwa yang dilindingi anatar lain adalah bekantan,kukang,lutung,beruang madu,elang,orang utan dan owa-owa. Sedangkan berbagai jenis yang tidak dilindungi seperti biyuku,kura-kura dan labi-labi (DISHUT Kalteng 2006)

Kalsel :

Berbagai fauna yang tergolong satwa langka yang dilindungi yang tersebar pada Hutan Suaka Alam dan Wisata secara umum di Kalimantan Selatan yaitu :

  • Bekantan ( Nasalis Larvatus )
  • Kera Abu – Abu ( Maccaca Irrus )
  • Elang ( Butatstur sp )
  • Beruang Madu ( Hylarotis Malayanus )
  • Kijang Pelaihari ( Muntiacus Salvator )
  • Owa – Owa ( hylobatus Mullerii )
  • Elang Raja Udang ( Palargapais Carpusis )
  • Cabakak ( Hakyan Chalaris )
  • Rusa sambar ( Cervus Unicular )
  • Biawak ( Varanus spesi )
  • Kuau ( Argusianus Argus )

Pecuk Ular ( Prebytus Rubicusida)

v Potensi Bahan Mineral – Energi

Propinsi Kalimantan Tengah mempunyai banyak potensi SDA tambang. Bahan galian C lebih di dominasi oleh tanah liat, pasir kwarsa, kaolin dan granit terdapat hampir di semua kabupaten. Sedangkan batu gamping banyak terdapat di kabupaten kapuas, GUMAS, Barito Timur, Barito Utara dan Mura.

Bahan galian A didominasi oleh batu bara dari pada potensi gas. Berdasarkan data yang ada, potensi bahan galian batu bara lebih banyak terdapat pada kabupaten MURA, BARUT, BARSEL dan BARTIM.

Bahan galian B hampir setiap kabupaten terdapat potensi ini,baik emas sekunder dan emas primer.

Pada daerah hilir lebih banyak tanah gambut (palangkaraya,kapuas,KOBAR,KOTIM dan katingan). Untuk bahan galian dengan jenis batu permata (kecubung) hanya terdapat di kabupaten Kotawaringin Barat.

Diwilayah Schawaner yaitu di kecamatan Sanaman Mantike terdapat batu granit, Batu Mulia terletak di Bukit Butik, Desa Tumbang Atei Kecamatan Sanaman Mantkei dan di Desa Rantau Bahai Kecamatan Katingan Hulu.

Peg Muller :

Menurut Pemaparan Bupati tentang kondisi dan percepatan pembangunan di Kabupaten Murung Raya berdasarkan peta geologi lembar Kalimantan, bagian Utara Kalimantan Tengah merupakan jalur mineralisasi yang dikenal dengan “Borneo Gold Belt” yang menghasilkan berbagai mineral bernilai ekonomi seperti: Au, Ag, Cu, Zn, Pb, Fe dan intan serta mineral-mineral industri seperti Kaolin, Pasir Kwarsa, Bentonite maupun Granit. Pada bagiah tengah ditemukan sekungan Barito, Kutai dan Kuala Pambuang memiliki kandungan endapan minyak dan gas bumi serta batubara.

Di Kalimantan Selatan setidaknya ada 22 bahan tambang yang berpotensi, diantaranya ada 7 bahan tambang unggulan yaitu batu bara, intan, emas, marmer, bijih besi, pasir kwarsa dan batu gamping.

.

Pegunungan Iban,

Potensi Bahan tambang yang terdapat di kawasan pegunungan Iban diantaranya Emas, Granit, Lempung, Batu Gamping dan Mata air Asin. Berdasarkan data yang di dapat dengan pendekatan wilayah adminstrasi adalah seperti tabel di Kaltim Tahun 2003

Sumber Daya Mineral Dan Energi Diperkirakan :

Minyak : 1,17 Juta Mmstb (Million Metric Stock Tank Barrel)

Gas Bumi : 48.680 Bscf (Billion Standard Cubic Feet)

Batubara : 21,00 Milyar Ton

Emas : 60,50 Juta Ton.

Sumber: Dinas Pertambangan Propinsi Kaltim Tahun 2003

b. SDM

Secara Umum Kondisi Penduduk Pulau Kalimantan sekarang ini berdasarkan jumlahnya dari data BPS adalah seperti berikut :

Propinsi

Jumlah Penduduk (BPS)

Kepadatan

1995

2000

2002

2003/04

Kalimantan Barat

3.635.730,00

3.740.017,00

4.167.293,00

4.033.234

Kalimantan Tengah

1.627.453,00

1.801.504,00

1.947.263,00

Kalimantan Selatan

2.893.477,00

2.970.244,00

3.054.129,00

3.267.282(2,04%)

Kalimantan Timur

2.314.183,00

2.436.545,00

2.566.125,00

2.704.851 /2.750.369

14,13

Jumlah

10.470.843,00

10.948.310,00

11.734.810,00

Hasil susenas, 2002. diambil dari profil tataruang per-propinsi 2003

Jumlah penduduknya 11 juta (2002) , dengan kepadatan penduduk 22 orang/km2. Laju pertumbuhan penduduk 1990 – 2000 adalah 1,87 %

Suku Dayak sebenarnya adalah nama kolektif puluhan suku, sub suku dan sub-sub suku. Beberapa kategorisasi digunakan pada masyarakat Dayak, tetapi pada umumnya bisa disebutkan bahwa kelompok induk Dayak terdiri dari Ngaju–Ot Danum, Iban, Punan, Kenyah Kayan, Lun Dayeh dan Land Dayak sebagai kelompok utama di Kalimantan (Avé 1996 : 4). Menurut klasifikasi Mallinckrodt, yang sedikit berbeda dari yang disebut di atas, yakni ada enam suku induk Dayak utama. Kelompok pertama, Kenya – Kayan – Bahhau, yang pada umumnya mendiami daerah Kalimantan Timur. Kedua, suku Ot Danum mendiami Kalimantan Tengah. Ketiga, suku Iban tinggal di daerah Malaysia Timur, Sabah dan Kalimantan Timur. Keempat, kelompok Murut, yang pada umumnya di Malaysia Timur, bagian Sabah dan bagian utara Kalimantan Timur. Kelima, kelompok Klemantan, juga sering diklasifikasikan sebagai Dayak Darat yang tinggal di Kalimantan Barat dan Keenam, kelompok Punan yang pada umumnya tinggal di pedalaman Kalimantan.

Kalsel

Dalam perkembangannya, penduduk Kalimantan Selatan sekarang terdiri dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Suku Banjar menjadi suku yang mendominasi jumlah penduduk di Kalimantan Selatan. Suku-suku lain diantaranya adalah suku Dayak Meratus, Jawa, Sunda, Bugis, Madura, Mandar, Dayak Bakumpai dan lain-lain (BPS 2000).

Kalteng

Wilayah propinsi Kalimantan Tengah didiami oleh banyak suku yang tersebar di berbagai kabupaten. Suku-suku tersebut antara lain adalah suku dayak Ngaju, Maanyan, Katingan, Lawangan, Bakumpai,Dusun, Ot danum (Kadorih),Ot marikit, Ot patih Tarukah, Ot siao, siang, Murung, Teboan dan Bentian. Suku-suku ini terbagi dalam sejumlah anak suku (sub suku). Suku dayak Ngaju dan Ot danum merupakan suku terbesar yang menyebat pada wilayah DAS kahayan, DAS Katingan, DAS Mentaya, DAS Seruyan, DAS Kapuas dan DAS Barito.

Seiring dengan perkembangan kota palangkaraya, masyarakat banjar yang identik dengan sistem perdagangannya mulai mengisi sentra-sentra ekonomi (pasar). Saat itu semua kebutuhan bahan pokok di pasok kebanyakan dari Banjarmasin. Kapal-kapal dagang dari Banjarmasin mulai marak memasuki sungai kahayan dengan melalui Kabupaten kapuas (Sebelum lancarnya arus transportasi darat). Maka tidak tidaklah aneh di kota Palangkaraya, Sampit dan Pangkalan Bun banyak warga Banjar yang juga ikut membangun dan meramaikan pembangunan provinsi Kalimantan Tengah.

Suku Jawa dan Madura lebih banyak pada daerah pesisir seperti kota Sampit dan Pangkalanbun. Hal ini dikarenakan sistem perdagangan dengan daerah lain seperti pulau Jawa. Untuk masyarakat dari Sulawesi (suku bugis) sebagian terdapat di kabupaten Kuala Pembuang. Awal masuk suku bugis ini masih belum ada data yang cukup (perlu dilakukan penelitian lebih lanjut).

Program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah orde baru pada tahun 1980-an dan kemudian banyak perusahaan HPH, menjadi faktor utama masuk penduduk dari Pulau jawa dan Bali secara besar besaran mulai masuk. Selain itu juga banyak penduduk dari suku Madura, Sunda, Flores, Lombok dan Bugis.

Menurut laporan Deputi kepala Pelaksanaan harian Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana dan Pengungsi (BAKORNAS PBP) pada tahun 2002, telah terjadi migrasi/perpindahan besar-besara dari seluruh Kabupaten yang ada di Kalimantan Tengah faktor utamanya adalah konflik etnis. Tercatat sekitar 181.575 jiwa mengungsi ke luar Kalimantan Tengah. Bahkan laporan dari seluruh pemerintah Kabupaten/kota se kalimantan Tengah jumlah pengungsi tersebut hanya tercatata 70.070 jiwa (adat istiadat dayak ngaju-pemerintah kota palangkaraya-Pusat Budaya Betang 2003)

Saat ini perpindahan warga dari madura dari pulau Jawa mulai terlihat yang dulunya mengungsi sudah kembali ke daerah yang dulunya terjadinya konflik seperti di sampit. Diterimanya warga Madura ini juga melaui kesepakatan-kesepakatan dengan pemerintah kabupaten dan kota yang dulu pernah terjadi konflik.

Kalbar :

Penduduk di Kalimantan Barat pada umumnya masih melakukan suatu kegiatan dengan berpegang pada pedoman leluhur dari muali sejak lahir sampai menutup hidup di dunia, didalam aktivitasnya selalu melakukan tradisi-tradisi yang masih dipercaya. Yang membedakan kondisi dulu dan sekarang ada pada cara melakukan ekspoitasi dan berinvestasi akan sesuatu kegiatan, dimana dulu untuk melakukan eksploitasi & investasi hanya dilakukan siapa yang dulu menemukan lahan dialah si pemiliknya serta juga siapa yang mampu membersihkan & membuka lahan dialah si empunya. Selain itu juga ada sistem berinvestasi diberikan kepada seseorang pendatang ataupun baru beranjak mandiri/dewasa dengan memeberikan tanah hanya untuk keperluan memenuhi kebutuhan hidup (bercocok tanam). Namun sekarang arus eksploitasi & investasi seperti mengucur dari kebijakan politik-hukum pemerintah tanpa di mengerti oleh masyarakat dan bukan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dalam satu tahun saja, akan tetapi memperoleh untung yang besar. Arus migrasi mempengaruhi demografi masyarakat di Kalimantan Barat dengan semakin beragamnya orang (suku) yang tinggal di Kalimantan Barat. Hal ini kemungkinan dikarenakan, kawasannya yang masih luas dengan rata-rata kepadatan penduduk 1 KK per 1 s/d 2 Km, sebagai tempat transit menuju ke wilayah negara tetangga. Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa, yang jumlahnya melebihi 90% penduduk Kalimantan Barat. Selain itu, terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak, dan lain-lain yang jumlahnya dibawah 10%. Kelompok utama yang bukan etnis Dayak yang tinggal di Kalbar adalah kelompok etnis Melayu, Tionghoa, Jawa, Bugis, dan Madura

Penyebaran penduduk di Kalimantan Barat tidak merata, karena penduduk lebih banyak berdiam di wilayah hilir 75.87 % dari RTRWP KalBar dengan total penduduk 3.722.172 jiwa (Kab&Kota Pontianak, Ketapang, Sambas, Landak, Bengkayang, Sanggau, Singkawang), sedangkan di bagian hulu hanya 24.13% dari total penduduk KalBar (Sanggau, Bengkayang, Kapuas Hulu, Sintang).

Dengan dilihat dari penyebaran penduduk, banyak masyarakat di hulu berdiam di hilir (kota) untuk menperoleh pekerjaan di sektor riil (jasa, industri hilir, pemerintahan, dll), hal ini disebabkan pembangunan yang terjadi KalBar bermula dari hilir baru ke hulu (menentang pepatah & arus sungai ’dari hulu sampai ke hilir’). Ini menyebabkan suatu pengaruh yang sangat berarti dalam kepadatan & jumlah penduduk dan juga pada penduduk yang dapat dikaitkan dari sendi sosial dalam memenuhi kebutuhan hidup. Untuk di KalBar sendiri membagi ke dalam 3 wilayah site SOB terlebih dahulu (Melawi, Sintang, Kapuas Hulu) dalam mengklasifikasikan data penduduk menurut sendi sosial yang berkembang di masyarakat (pekerjaan, agama, pendidikan, etnis, umur tingkatan sebaran desa-kota, ketergantungan dengan asset alam )

Di lihat dari Pekerjaan Kependudukan di Kabupaten Kapuas Hulu, untuk tahun 2003/2004 berjumlah 105.827 jiwa dengan terbagi ke dalam jenis pekerjaan (Pertanian 79.98 %, Pertambangan 2.21%, Industri 2.55%, Energi 0.09%, Bangunan 1.79%, Perdagangan & motel 6.09%, jasa pengangkutan 2.25%, Finansial & perusahaan 0.09%, Jasa lainnya 4.95% ); dengan usia produktif 15-60 tahun 2004 berjumlah 204.521 jiwa Kabupaten Sintang meliputi usaha (Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri 1.52%, Energi 0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi & komunikasi 1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08%); Kabupaten Melawi (Pertanian 76.85%, Pertambangan 6.7%, Industri 1.52%, Energi 0.47%, Konstruksi 1.62%, Perdagangan 6.35%, Transportasi & komunikasi 1.64%, Financai 0%, Jasa 4.77%, Lain-lain 0.08% )

Agama/Rumah Ibadah Kabupaten Sintang ( Islam 189 Masjid &314 Surau, Katolik 165 Gereja & 137 Kapel, Protestan 187 Gereja, Budha 6 Vihara ) ; Kabupaten Kapuas Hulu ( Islam 106.398 Jiwa dengan 204 Masjid & 135 Surau, Katolik 76.171 Jiwa dengan 126 Gereja & 157 Kapel, Protestan 21.689 Jiwa dengan 63 Gereja, Hindu 289 Jiwa, Budha 87 Jiwa ); Kabupaten Melawi ( Islam 138 Masig & 141 Surau, Katholik 73 Gereja & 25 Kapel, Protestan 119 Gereja, Hindu 2 Vihara ) .

Pendidikan Kabupaten Sintang ( TK 125 guru & 1489 Murid, SD 2216 Guru & 50.806 Murid, SLTP 841 Guru & 12.842 Murid, SLTA 555 Guru & 7163 Murid, Perguruan Tinggi 5484 Jiwa ) ; Kabupaten Kapuas Hulu ( TK 1187 Murid, SD 31.568 Murid, SLTP 7356 Murid, SLTA 4308 Murid, Pendidikan Non Formal 1334 Jiwa ); Kabupaten Melawi ( TK 58 Guru & 482 Murid, SD 1184 Guru &23.369 Murid, SLTP 394 Guru & 5572 Murid, SLTA 201 Guru & 3668 Murid, Perguruan Tinggi 2607 Jiwa ).

Etnis Kabupaten Kapuas Hulu berdasarkan Transmigrasi (Sunda 439 Jiwa, Jawa 42 Jiwa)

3.Kondisi Sosial Ekonomi

Penduduk terbanyak yang mendiami Kalimantan adalah Suku Dayak. Secara harfiah, “Dayak” berarti orang pedalaman dan merupakan istilah kolektif untuk bermacam-macam golongan suku, yang berbeda dalam bahasa, bentuk kesenian, dan banyak unsur budaya serta organisasi sosial. Mereka terutama merupakan peladang berpindah padi huma, yang menghuni tepi-tepi sungai di Kalimantan. Di seluruh Borneo, barangkali terdapat 3 juta orang Dayak. Pada umumnya, mereka tinggal di daerah-daerah aliran sungai di dataran rendah dan dataran-dataran aluvial.

Beberapa Suku yang tinggal di Kalimantan

No

Nama Suku

Jumlah Populasi

Wilayah Tinggal

Karakteristik

1

Suku Iban

368.000

Sarawak, Kalbar, Brunei, Sabah, dan Kalteng.

Pejuang yang menakutkan, pengayau, nomaden, dan agresif.

2

Suku Ngaju

-

-

-

3

Suku Kantu

-

Aliran Sungai Kapuas, Kalbar.

-

4

Suku Seberuang

-

Aliran Sungai Kapuas, Kalbar.

-

5

Suku Bugau

-

Aliran Sungai Kapuas, Kalbar.

-

6

Suku Mualang

-

Aliran Sungai Kapuas, Kalbar.

-

7

Suku Ot Danum

-

Lembah Sungai Bagian Hulu, Kalteng.

-

8

Suku Maanyan & Suku Lawangan

-

Sepanjang Hulu dan Tengah Sungai Barito

-

9

Suku Kanyan-Kenyah

-

Pedalaman Kaltim, Sarawak, Sepanjang Hulu S. Kayan, S. Mahakam, S. Rajang, dan S. Baram.

-

10

Suku Kayan

-

Sungai Mendalam, Kalbar.

-

11

Suku Modang

-

Aliran Sungai Mahakam

-

12

Suku Kajang

-

Divisi Tujuh Sarawak

-

13

Suku Melanau

-

Pesisir Serawak

-

14

Lun Bawang

-

Kalimantan Timur

-

15

Lun Dayeh

-

Kalimantan Timur

-

16

Suku Bidayuh

-

Di hilir daerah aliran S. Kapuas

-

17

Suku Maloh (Suku Embaloh, Taman, dan Kalis)

-

Pedalaman Kalimantan Barat

-

18

Suku Selako

-

Sambas dan Kendayan di Pedalaman Pontianak

-

Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) . HDI pada tahun 1996 sampai dengan 1999 menurun di semua propinsi. Total HDI rata-rata di Kalimantan 68,2 tahun 1996 dan 64,3 pada 1999 kemudian pada tahun 2003 menjadi 65. Penurunan ini lebih disebabkan karena memang tingkat pendapatan perkapita jauh menurun akibat krisis, sementara HDI sangat ditententukan oleh faktor income/capita.

Jika melihat data kemiskinan pada tahun 2002 yang dikeluaran dinas sosial terlihat kondisi sosial masyarakat Kalimantan, buta huruf rata-rata 7,28 % dengan Kalimantan Barat yang tertinggi yaitu di Kabupaten Sintang 17 %. Masyarakat yang belum mendapatkan pelayananan air bersih rata-rata 58,7 %, dengan Kalimantan barat yang tertinggi yaitu 92 %. Indeks Kemiskinan masih 29 % dari total penduduk, selengkapnya dapat dilihat pada lampiran tabel

Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan (1999) terhadap PDB nasional mencapai 10.09 %, suatu nilai yang cukup baik. Dari angka itu nilai PDRB terbesar didapat dari propinsi Kaltim yaitu 59,21 %. Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB tahun 2000 adadalh Industri pengolahan (25,8 %), sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian (20,66 %) sendangkan ketiga pertanian (16,34 %). Walupun sektor pertanian ketiga, namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %, kecuali di propinsi Kaltim. Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian yaitu mencapai 23 % (1996-2000). Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya.

Kalimantan berperan penting dalam pengembangan ekonomi Indonesia dan merupakan salah satu penghasil devisa utama. Pada tahun 2003, Kalimantan menghasilkan 29 % pendapatan sektor Indonesia yang berasal dari migas, 25,72% dari sektor pertambangan dan 34.54 % dari sektor hutan.

4. Sarana dan Prasarana

Tahun 2000 total panjang jalan di pulau Kalimantan 42.641 km. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar.  Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85,29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terthubungkan secara masif, yaitu jalur utara membentang barat-timur, tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai.  Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis, mendukung dan mendorong perkembangan wilayah.

Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan haya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet  kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan, yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan, Kalsel 1 kota pelabuhan, dan Kaltim 15 kota pelabuhan. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu  2.491.102 ton bongkar dan 54.324.824 ton muat.

Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial, agama dan keamanan wilayah. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima), Kalteng 7 (tujuh), Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat).  Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang – keluar pelabuhan udara tercatat 39.964 pesawat keberangkatan dan 40.005 pesawat kedatanga

Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total, sebagaian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. Wilayah-wilayah lainnya sudah dihubungi dengan jaringan bertegangan 150 KV dan masih terbatas dalam jangkauan pelayanannya. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD  dan ada beberapa dari PLTG, PLTA dan PLTGU.  PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal.  Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air, batu bara, dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA, PLTG, dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit, olahan hasil hutan, pertambangan, semen, dan industri lainnya.  Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis.

5. Kawasan konservasi

Ø Taman Nasional

Kawasan luas yang relatif tidak terganggu dan memiliki nilai alami khusus dengan kepentingan konservasi yang tinggi, potensi untuk rekreasi tinggi, dan memiliki akses yang cukup mudah bagi pengunjung serta memiliki manfaat yang jelas bagi daerah setempat.
Misalnya: Tanjung Puting, Kutai, Gunung Palung, dan Bukit Baka.

Ø Cagar Alam

Kawasan yang memerlukan perlindungan secara ketat, di dalamnya terdapat habitat-habitat rentan yang memiliki nilai konservasi tinggi, memiliki keunikan alami dan merupakan habitat jenis kehidupan khusus yang langka.
Misalnya: Kayan Mentarang, Bentuang, dan Karimun.

Ø Suaka Margasatwa

Umumnya berupa kawasan yang tidak terganggu yang berukuran sedang sampai besar, memiliki nilai konservasi sedang sampai tinggi.
Misalnya: Pleihari-Martapura dan Danau Sentarum.

Ø Taman Wisata

Kawasan berukuran kecil dengan bentang alam yang menarik atau memiliki ciri-ciri alam yang menarik, memiliki akses yang cukup mudah bagi para pengunjung (di tempat-tempat dengan nilai konservasi rendah) atau yang tidak terancam oleh kegiatan pengunjung dan pengelolaan yang berorientasi pariwisata.
Misalnya: Pulau Kembang, Mandor, dan Batu Hapu.

Ø Taman Buru

Habitat alami atau semi alami berukuran sedang sampai besar dengan potensi pemburuan satwa liar dan populasi binatang untuk diburu (babi, rusa, sapi liar, ikan, dan lain-lain) cukup besar. Nilai konservasi kawasan ini harus rendah sehingga tidak terancam oleh kegiatan pemburuan atau penangkapan ikan. Misalnya: Apar Besar

Ø Hutan Lindung

Kawasan alami atau hutan tanaman yang terletak di lereng yang curam, mudah tererosi dan tanahnya mudah hanyut oleh hujan. Penutup hutan sangat diperlukan untuk melindungi daerah aliran sungai serta mencegah tanah longsor dan erosi. Nilai konservasi kawasan ini tidak terlalu tinggi sehingga tidak memerlukan status kawasan yang dilindungi secara khusus.
Misalnya: Batikap I, II, dan III, Bukit Batu Tenobang.

Ø Cagar MAB

Habitat-habitat alami dengan kekayaan jenis dan nilai konservasi yang tinggi, dimana pengambilan sumber daya alam secara tradisional oleh penduduk setempat diijinkan.
Misalnya: Apo Kayan.

About these ads
7 Komentar leave one →
  1. chachan permalink
    5 April 2009 06:13

    tolong info tentang perairan, hidrologi dan mata pencaharian penduduk di pulau kalimantan.
    makasih

  2. takin permalink
    19 April 2009 11:48

    aslm, maaf boleh minta info mengenai ketinggian di kelurahan/desa tadoan, mandu dalam, sandaran, bumi rapak, benua baru,manubar, peridan. berapa meter bila diukur dari atas permukaan laut. apakan anda tahu mengenai itu?
    terima kasih

  3. Lidya permalink
    30 April 2009 11:19

    Aslm,, tolong info tentang gunung-gunung yang ada di kalimantan dan proses terbentuknya gunung tersebut.
    Terima kasih

  4. 1 Mei 2009 06:16

    mohon bersabar lidya.

  5. didi permalink
    13 September 2010 00:50

    Assalam..bisa minta info untuk akses menuju Gunung Lawit..kita ada rencana mau kesana…terima kasih…syukur2 kalau ada foto2nya…trims

  6. didi permalink
    13 September 2010 00:50

    Assalam..bisa minta info untuk akses menuju Gunung Lawit..kita ada rencana mau kesana…terima kasih…syukur2 kalau ada foto2nya…trims

  7. 29 Januari 2014 18:03

    penjelasannya tentang keraja an di kalsel banyak yg salah,dan sepertinya ingin mengunggulkan jawa dari kalsel .

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 76 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: